sebagai React Native Developer, apakah gw harus khawatir dengan hadirnya Flutter?

Flutter Live ~ The History of Everything Demo

Semalem gw nonton Flutter Live di youtube, Google telah merilis versi stable dari Flutter, Flutter 1.0. Pada video - video semacam itu tentu saja yang paling banyak diceritakan dan pamerkan adalah the good things-nya rather than the bad things nya karena memang video itu ditujukan untuk promosi.

Banyak sekali pros dari Flutter yang mereka pamerin. Performance, Rapid Development, Animation, Hardware Accelerated, dll. dan gw cukup amazed dengan apa yang ditawarkan oleh Flutter itu sendiri.

Sebenarnya pas awal Google announce Flutter pada versi beta-nya sekitar awal tahun 2018 lalu, gw udah mulai kepoin framework yang satu ini dan saat itu gw merasa biasa aja sih. Karena memang saat itu gw berasumsi ini adalah another ui framework saingan si React Native yang bener-bener punya native performance semacam NativeScript atau Xamarin.

Tapi dari video semalem yang gw tonton gw bener-bener tercengang sama demo yang mereka tunjukin, mereka highlight salah satu app yang dibangun dengan Flutter yaitu The History of Everything dan mind blown banget jika app ini memang fully developed pake Flutter.

Sebagai developer yang pake React Native untuk mobile development tentu selain amazed, gw juga khawatir.

Gw Khawatir tentang Flutter

Gw pertama kali memulai karir gw sebagai programmer adalah di moment ketika web sudah happening dan menjadi essential platform dan gw suka banget sama web karena platform ini sangat flexible, punya sebuah address, kita cuman butuh web browser buat akses dan hari ini kita bisa membuat apapun diatas platform web.

React, gw suka React dan gw pake React di production, dan secara otomatis gw juga suka React Native karena gw bisa bikin Native Apps menggunakan bahasa dan api yang sama dengan ketika gw develop di web.

Javascript, gw antara suka dan gak suka sama js, gak suka karena bahasa ini terlalu ambigu dan suka karena bahasa ini sangat flexible, gw bisa bikin semua hal di top level pake bahasa ini. Desktop App, Mobile App, cli, Web, VR, REST, semuanya.

Flutter & Dart, gw khawatir karena si Flutter pake Dart yang artinya kalo Flutter ini udah fully adopted di industri, gw harus maintain 2 skillset yang berbeda dan sama-sama high level language! arrrrgh!

dan sejujurnya gw juga bingung gitu sama Google Open Source, masih anget tuh announcement tentang Google supporting Kotlin dan jadiin dia sebagai default language untuk develop Android dan sekarang bikin Flutter. ini sama kaya ketika mereka bikin Angular dan disaat yang sama mereka juga bikin Polymer. kenapa gak put effort di satu hal agar dia bisa support banyak hal rather than put effort di banyak hal untuk achieve satu hal sama!

Gw Gak perlu Khawatir tentang Flutter

Well, sebenernya gw gak perlu begitu khawatir dengan React Native being replaced by Flutter karena sebenarnya nilai plus dari Flutter dibanding React Native untuk sekarang menurut gw cuman performance and we're aware of that issue and the community already take an action by rewriting React Native with a whole new architecture.

Di kantor, kita pake React Native dan React DOM di production, dengan source code yang sama. saat kita bandingkan antara web dan rn platform memang noticeable delay yang disebabkan oleh bridge. tapi kita sepakat itu bener2 worth karena kita cuman butuh maintain satu source code untuk 3 platform yang berbeda Web, Android, iOS.

Dan lagi pula setelah React Native Fabric sudah dirilis, performance bukan lagi jadi masalah, so why do we need Flutter with that Dart if Fabric has released?

React Native Fabric Architecture
Show Comments